Romypradhanaarya's Blog

Just another WordPress.com weblog

indikator perekonomian April 2011

leave a comment »

Inflasi Bulan April 2011

  • Pada bulan April 2011 terjadi deflasi sebesar 0,22% di Kota Surabaya. Secara kumulatif bulan Januari-April 2011 di Kota Surabaya inflasi sebesar 1,02% dan secara year-on-year bulan April 2011 dibanding bulan April 2010 Kota Surabaya inflasi sebesar 7,59%.
  • Deflasi yang terjadi pada bulan April disebabkan oleh adanya deflasi di kelompok bahan makanan sedangkan kelompok barang/jasa lainnya mengalami inflasi.
  • Komoditas yang mendorong deflasi adalah cabe rawit, bawang merah, telur ayam ras, bandeng, daging ayam ras, jagung muda, beras, cabe merah, gula pasir dan minyak goreng.
  • Penurunan harga beras disebabkan panen bulan Februari dan Maret lalu dan diprediksi berakhir April 2011.
  • Penurunan gula pasir diduga terkait dengan akan dimulainya musim giling pada bulan Mei 2011.
  • Turunnya harga minyak goreng diduga karena turunnya harga CPO di pasaran internasional.
  • Deflasi sebesar 0,22% disumbang oleh kelompok bahan makanan sebesar -0,45%, kelompok makanan jadi, minuman & rokok sebesar 0,04, kelompok perumahan sebesar 0,05%, kelompok sandang 0,07%, kelompok kesehatan sebesar 0,05%, kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga 0,00% dan kelompok transportasi, komunikasi & jasa keuangan  sebesar 0,02%.
  • Pada kelompok Kesehatan inflasi sebesar 0,96% didorong oleh inflasi pada subkelompok perawatan jasmani & kosmetik sebesar 2,28%, inflasi subkelompok obat-obatan sebesar 0,43%, sedangkan subkelompok jasa kesehatan dan subkelompok jasa perawatan jasmani masing-masing inflasi sebesar 0,00%.

 

Perkembangan Harga Komoditi Bahan Pokok Bulan Maret 2011

  • Dari pantauan harga di pasar, harga komoditi bulan Maret 2011 dibanding bulan Februari 2011 yang mengalami kenaikan antara lain : daging yama kampung besar (naik 10,06%), cabe merah besar (18,05%), tomat (131,15%), sawi hijau (84,68%), dan komoditi lainya seperti pada tabel.
  • Harga komoditi bulan Maret 2011 dibanding bulan Februari 2011 yang mengalami penurunan antara lain : cabe merah kecil/rawit (turun 49,33%), bawang merah lokal (turun 17,44%), kentang (turun 14,55%), wortel (turun 17,4%), dan komoditi lain seperti pada tabel.

Lampiran

Inflasi

Tabel 1. IHK dan Tingkat Inflasi Surabaya, Jawa Timur dan Nasional Bulan April 2011

 

Surabaya

Jawa Timur

Nasional

IHK

124,79

125,54

125,66

Inflasi Bulan April (%)

-0,22

-0,44

-0,31

Inflasi Kumulatif Januari-April (%)

1,02

0,54

0,39

Inflasi year on year (April 2011-April 2010) (%)

7,59

6,63

6,16

Tabel 2. Inflasi 10 Kota di Jatim Bulan April 2011

Kota

Inflasi April

Inflasi kumulatif (Jan-April)

Inflasi y-o-y (Apr 2011-Apr 2010)

Jember

-0,77%

0,02%

6,75%

Tulungagung

-0,84%

0,27%

5,41%

Banyuwangi

-0,93%

-0,11%

5,77%

Tuban

-0,68%

0,50%

5,76%

Sumenep

-0,48%

-0,38%

5,70%

Kediri

-0,31%

-0,46%

5,37%

Malang

-0,42%

0,30%

5,82%

Probolinggo

-0,33%

0,86%

6,80%

Madiun

-0,62%

0,17%

5,60%

Surabaya

-0,22%

1,02%

7,59%

Tabel 3. Inflasi Ibukota Propinsi di Pulau Jawa Bulan April 2011

Kota

Inflasi April

Inflasi

y-o-y

(Apr 2011-Apr 2010)

Jakarta

0,07%

5,79%

Serang

-0,46%

4,91%

Bandung

-0,02%

3,76%

Semarang

-0,54%

5,46%

Yogyakarta

-0,28%

6,96%

Surabaya

-0,22%

7,59

Tabel 4. Inflasi Kelompok Barang dan Jasa Bulan April 2011 di Surabaya

Kelompok dan Sub Kelompok Jenis Barang/Jasa

Inflasi April (%)

Sumbangan thdp inflasi April (%)

000 UMUM

-0,22

-0,22

100 BAHAN MAKANAN

-2,12

-0,4484

101 Padi-2an, umbi-2an & hsl-nya

-0,49

-0,0231

102 Daging & hasilnya

-1,45

-0,0395

103 Ikan Segar

-0,02

-0,0003

104 Ikan Diawetkan

1,53

0,0105

105 Telur, Susu dan hsl-nya

-2,28

-0,0490

106 Sayur-2an

1,38

0,0206

107 Kacang-2an

0,05

0,0007

108 Buah-2an

0,51

0,0108

109 Bumbu-2an

-15,13

-0,3549

110 Lemak dan Minyak

-1,71

-0,0240

111 Bahan makanan lainnya

-0,14

-0,0002

200 MAK. JADI, MIN., ROKOK

0,21

0,0365

201 Makanan Jadi

0,02

0,0030

202 Minuman yang tdk beralkohol

-0,37

-0,0124

203 Tembakau dan Min.beralkohol

1,43

0,0459

300 PERUMAHAN

0,25

0,0534

301 Biaya tempat tinggal

0,34

0,0357

302 Bhn bakar, penerangan & air

0,00

0,0000

303 Perlengkapan rumah tangga

-0,05

-0,0008

304 Penyelenggaraan rumah tangga

0,59

0,0185

400 SANDANG

1,10

-0,0747

401 Sandang laki-laki

1,79

0,0236

402 Sandang wanita

0,01

0,0001

403 Sandang anak-anak

0,04

0,0004

404 Barang Pribadi & sandang lainnya

1,56

0,0506

500 KESEHATAN

0,96

0,0456

501 Jasa Kesehatan

0,00

0,0000

502 Obat-obatan

0,43

0,0040

503 Jasa Perawatan Jasmani

0,00

0,0000

504 Perawatan Jasmani & Kosmetik

2,28

0,0416

600 PEND. REKREASI & O.R.

0,00

0,0002

601 Jasa Pendidikan

0,00

0,0000

602 Kursus-Kursus/Pelatihan

0,00

0,0000

603 Perlengkapan/Peralatan Pend.

0,00

0,0000

604 Rekreasi

0,01

0,0002

605 Olahraga

0,00

0,0000

700 TRANS, KOM & JASA KEU.

0,12

0,0216

701 Transport

0,18

0,0216

702 Komunikasi dan Pengiriman

0,00

0,0000

703 sarana & Penunjang Transport

0,00

0,0000

704 Jasa Keuangan

0,00

0,0000

Tabel 5. Sepuluh Komoditi Penyumbang Terbesar Terhadap Inflasi dan Deflasi

Bulan April 2011 di Surabaya

Komoditi Penyumbang Inflasi

Komoditi Penyumbang Deflasi

Jenis Komoditi

Perubahan Harga

Sumbangan thdp inflasi

Jenis Komoditi

Perubahan Harga

Sumbangan thdp inflasi

Emas Perhiasan

1,71%

0,05%

Cabe Rawit

-41,65%

-0,24%

Rokok Kretek

4,47%

0,04%

Bawang Merah

-20,38%

-0,09%

Sewa Rumah

0,88%

0,02%

Telur Ayam Ras

-7,50%

-0,06%

Udang Basah

7,21%

0,02%

Bandeng

-5,64%

-0,03%

Celana Panjang Jeans

9,54%

0,02%

Daging Ayam Ras

-2,64%

-0,02%

Ketimun

19,99%

0,02%

Jagung Muda

-12,06%

-0,02%

Tomat Sayur

23,50%

0,02%

Beras

-0,56%

-0,56%

Sabun Mandi

5,72%

0,01%

Cabe Merah

-12,21%

-12,21%

Sepeda Motor

0,45%

0,01%

Gula Pasir

-1,48%

-0,01%

Bayam

8,77%

0,01%

Minyak Goreng

-1,33%

-0,01%

Sumber: Berita Resmi Statistik, BPS Jatim Bulan Mei 2011, diolah

Perkembangan Harga Komoditi Bahan Pokok

Tabel. Perkembangan Harga Rata-Rata Komoditi Pada Bulan Maret 2011 Terhadap Harga Rata-Rata Bulan Februari 2011 dan Maret 2010

BERAS

SATUAN

JANUARI 2011

FEBRUARI 2011

MARET 2011

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

MENTIK

Kg

8.833

8.461

8.528

21%

0,79%

IR 64 Kw II

Kg

7.167

7.027

7.052

11%

0,36%

IR 64 Kw III

Kg

6.550

6.438

6.465

0,41%

BERAS KETAN

Kg

12.833

12.396

12.060

-2,71%

GULA PASIR

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

LOKAL KEMASAN (GULAKU)

Kg

11.875

11.829

11.692

-14,43%

-1,16%

LOKAL TANPA KEMASAN (PUTIH)

Kg

10.442

10.256

10.381

-11,98%

1,22%

GULA JAWA

Kg

9.833

9.538

9.521

-0,18%

MINYAK GORENG

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

BIMOLI (BOTOL)

Kg

11.708

12.198

11.660

0,15%

-4,41%

MINYAK CURAH

Lt

11.233

11.113

10.810

22,79%

-2,72%

MENTEGA

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

MENTEGA BLUE BAND

250 Gram

7.000

6.583

6.990

-1,32%

6,18%

MENTEGA CURAH AMANDA

Kg

9.333

9.067

9.208

-9,46%

1,56%

DAGING SAPI

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

GREET ATAS

Kg

63.167

61.854

62.542

2,23%

1,11%

GREET BAWAH

Kg

58.083

57.667

57.250

4,39%

-0,72%

DAGING AYAM

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

AYAM BROILER

Kg

21.333

20.813

22.177

10,29%

6,55%

AYAM KAMPUNG KECIL

Ekor

35.000

31.438

30.646

-3,48%

-2,52%

AYAM KAMPUNG BESAR

Ekor

60.833

48.021

52.854

9,16%

10,06%

TELUR AYAM

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

AYAM BROILER

Kg

13.042

13.115

13.615

17,30%

3,81%

AYAM KAMPUNG

Butir

1.258

1.250

1.236

-0,37%

-1,08%

SUSU

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

SUSU KENTAL MANIS BENDERA

397 gr/Kl

8.083

8.250

8.000

1,28%

-3,03%

SUSU KENTAL MANIS INDOMILK

390 gr/Kl

7.500

7.746

7.541

2,05%

-2,65%

SUSU BUBUK BENDERA

400 gr/Dos

26.333

26.521

26.073

2,11%

-1,69%

SUSU BUBUK DANCOW

400 gr/Dos

26.500

26.188

26.042

0,84%

-0,56%

SABUN CUCI

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

RINSO

Kg

11.742

12.165

11.640

-2,79%

-4,32%

DETERGEN EKONOMI

225 Gr

1.583

1.817

1.629

9,34%

-10,34%

JAGUNG

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

PIPILAN KECIL

Kg

5.042

5.000

5.177

19,76%

3,54%

PIPILAN BESAR

Kg

4.192

4.031

4.244

12,63%

5,28%

GARAM BERYODIUM

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

HALUS (CAP KAPAL)

Gr/Bungkus

925

844

766

16,00%

-9,29%

BATA (CAP KUDA)

Buah

242

231

242

6,93%

4,62%

KACANG KEDELE

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

IMPOR

Kg

7.083

7.146

6.813

-6,23%

-4,67%

LOKAL

Kg

7.583

7.406

7.208

3,79%

-2,67%

CABE MERAH

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

BESAR

Kg

35.417

23.729

28.013

146,16%

18,05%

KECIL (RAWIT)

Kg

79.167

89.875

45.542

220,99%

-49,33%

BAWANG PUTIH

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

KATING

Kg

20.250

20.729

21.323

57,74%

2,87%

SINCO

Kg

18.917

18.750

19.563

51,81%

4,33%

KOMODITI

SATUAN

JANUARI

FEBRUARI

MARET

% thdp Mar 2010

% thdp Feb 2011

TEPUNG TERIGU SEGITIGA BIRU

Kg

7.125

6.813

6.800

-9,98%

-0,19%

IKAN ASIN TERI KECIL (BUKAN MEDAN)

Kg

48.333

42.917

45.146

7,92%

5,19%

MIE INSTAN INDOMIE GORENG

Bungkus

1.367

1.427

1.375

11,61%

-3,64%

MINYAK TANAH

Liter

7.375

7.813

7.375

8,41%

-5,61%

GAS LPG 3 KG

per Tabung

13.250

13.300

13.200

0,84%

-0,75%

BAWANG MERAH LOKAL

Kg

18.667

20.729

17.115

54,44%

-17,44%

KACANG HIJAU

Kg

15.750

16.438

14.865

14,40%

-9,57%

KACANG TANAH

Kg

15.833

15.750

15.094

15,95%

-4,17%

KETELA POHON

Kg

2.167

2.458

2.219

8,23%

-9,73%

KUBIS/KOL

Kg

5.875

3.979

3.985

21,54%

0,16%

KENTANG

Kg

7.833

8.375

7.156

19,27%

-14,55%

TOMAT

Kg

7.750

3.844

8.885

13,06%

131,15%

WORTEL

Kg

5.833

5.927

4.896

2,02%

-17,40%

TERONG (PANJANG)

Kg

5.708

4.969

5.198

84,78%

4,61%

KANGKUNG (PANJANG)

Ikat

792

838

828

20,89%

-1,18%

BAYAM

Ikat

958

921

911

32,87%

-1,04%

SAWI HIJAU

Ikat

1.042

1.004

1.854

144,61%

84,68%

EMAS (70-80%)

Gram

310.000

313.750

303.438

17,96%

-3,29%

SEMEN GRESIK 40 KG

Zak

44.500

44.875

45.000

-7,69%

0,28%

Sumber: Laporan Monitoring dan Evaluasi Distribusi dan Ketersediaan Bahan Pokok Bulan Maret 2010, diolah

Berita Bank Indonesia Edisi Desember 2010

Topik: Bank Perkreditan Rakyat

  • Landasan hukum BPR dalam UU No.7/1992 Tentang Perbankan yang diubah menjadi UU No.10/1998, BPR memang merupakan jenis bank yang kegiatan usahanya terutama ditujukan untuk melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di pedesaan.
  • BPR mengemban misi untuk menunjang pertumbuhan dan perberdayaan ekonomi melalui penyediaan layanan jasa perbankan di pedesaan serta mengurangi praktek ijon para pelepas uang.BPR tidak hanya memberi layanan kredit saja tetapi juga memberi alternatif kepada masyarakat untuk menyimpan dananya dalam bentuk simpanan berupa tabungan dan deposito.
  • Dalam konsep moneter, BPR bukan lembaga keuangan yang dapat menciptakan uang giral. Artinya BPR tidak boleh menerima simpanan masyarakat dalam bentuk giro dan tidak boleh ikut dalam lalu lintas sistem pembayaran
  • Menurut catatan badan Pusat Statistik (BPS) sebagian besar populasi penduduk desa atau sebesar 56,5% dari total masyarakt Indonesia belumlah tersentuh sektor perbankan. Saat ini ada 51,3 juta unit UNK yang memberi sumbangsih terhadap GDP sebesar 42,1%. Dari 15 juta UMK berbadan hukum, sebagian besar atau 12 juta UMK belum tersentuh kucuran kredit perbankan.
  • BI mempersyaratkan bagi calon pengurus BPR agar memiliki kompetensi standar yang dibuktikan dengan sertifikat kelulusan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) LKM Certif. BI melakukan peningkatan kompetensi pengawas BPR melalui program pelatihan pengawas BPR, program sertifikasi pengawas bank (Banking School), forum sosialisasi, workshop, klinik hukum dan knowledge sharing.
  • Saat ini ada 1.707 BPR dengan 3.558 jaringan kantor yang melayani pelaku usaha mikro di pedesaan, pinggiran kota dan perkotaan di seluruh Indonesia. Terdapat peningkatan jumlah kantor BPR yang ditunjukkan dengan peningkatan jumlah kantor cabang 240,5% atau 48,1% rata-rata pertahun, total aset naik 116,5% atau 23,3% rata-rata pertahun, total kredit 127,1% atau 25,4% rata-rata pertahun dan dana pihak ketiga BPR naik 128,1% atau 25,6% rata-rata pertahun.
  • Penetapan kisaran suku bunga kredit BPR akan sangat bergantung pada 3 (tiga) faktor utama yaitu :
  1. Biaya dana (cost of fund), merupakan biaya bunga atas dana yang diterima oleh BPR dalam bentuk dana pihak ketiga (DPK) dan penempatan antarbank (simpanan dan pinjaman) serta pinjaman dari pihak lain non bank.
  2. Biaya Operasional (overhead cost), merupakan biaya yang timbul dari transaksi dalam rangka penghimpunan dana dan penyaluran kredit BPR, antara lain biaya tenaga kerja, biaya pendidikan/pelatihan, biaya penelitian dan pengembangan, biaya sewa dan promosi serta biaya operasional lainnya.
  3. Tingkat keuntungan (profit margin), merupakan tingkat keuntungan yang ditetapkan oleh BPR.

Sumber : Bank Indonesia

Berita Bank Indonesia Edisi Februari 2011

Topik : Inflation Targeting Framework (ITF)

  • Salah satu pendekatan untuk meredam inflasi yaitu Inflation Targeting Framework (ITF). ITF dipilih menjadi kebijakan BI karena bank sentral ingin inflasi nasional menjadi rendah.
  • ITF adalah prosedur yang mengatur bagaimana kebijakan moneter dirumuskan oleh bank sentral untuk menjaga inflasi menuju satu titik sasaran yaitu inflasi yang rendah dan stabil. Karena itu, bank sentral harus mempunyai sasaran inflasi yang ingin dicapai dan diumumkan ke publik dalam rangka menuntun ekspektasi publik.
  • Sasaran inflasi juga artinya bahwa bank sentral memberikan komitmen kepada publik bahwa setiap kebijakan selalu mengacu pada target tersebut
  • Undang-Undang No. 6 Tahun 2009 tentang BI menitip amanat agar bank sentral berupaya mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah yang terlihat dengan kasat mata publik dari stabilitas harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi.
  • BI memilih ITF karena cara ini memiliki mekanisme yang jelas, akuntable, transparan yang bermuara pada menguatnya kredibilitas kebijakan moneter.
  • Bank sentral yang memilih ITF sebagai kerangka kebijakan moneternya harus independen dalam melaksanakan kebijakannya. Karena itu BI sudah menjadi institusi independen sejak disahkannya UU No. 23 Tahun 1999 Tentang BI. Maka keputusan yang diambil BI tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun serta BI tidak membiayai defisit anggaran pemerintah karena hal itu dikhawatirkan mendorong laju permintaan yang tak terkontrol.
  • BI hanya bisa menjaga dan mempengaruhi sumber-sumber pemicu inflasi dari sisi permintaan (demand pull inflation) sedangkan dalam kenyataan ternyata pencetus inflasi lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor di sisi suplai dan distribusi (cost push inflation) serta penyesuaian harga komoditas strategis.
  • Langkah awal dalam ITF adalah menentukan besaran proyeksi angka inflasi. Proses awal mengolah besaran proyeksi inflasi yaitu menetapkan asumsi-asumsi. Asumsi dibagi kedalam dua dua bagian besar yaitu asumsi eksternal dan internal.
  • Asumsi eksternal misalnya proyeksi angka pertumbuhan ekonomi, gejolak harga minyak mentah, pergerakan harga komoditas pangan seperti gandum, beras, kedelai. Asumsi juga mempertimbangkan stance kebijakan moneter negara lain seperti inflasi dan suku bunga.
  • Asumsi internal yaitu merujuk kebijakan fiskal pemerintah termasuk rencana kenaikan tarif yang diatur oleh pemerintah (listrik, ari dan telepon) maupun roadmap kebijakan energi kedepan seperti pembatasan BBM bersubsidi serta konversi minyak tanah. Juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah.
  • Langkah selanjutnya adalah melakukan simulasi dengan memakai model – model ekonomi yang ada guna menghasilkan keluaran berupa angka inflasi dan angka Produk Domestik Bruto (PDB).
  • Kebijakan moneter yang diambil BI memiliki time-lag, sehingga kebijakan moneter saat ini baru akan tercermin hasilnya antara 4-6 triwulan kedepan. Tingkat inflasi pada saat ini merupakan dampak dari kebijakan moneter yang diambil pada waktu 1-1,5 tahun sebelumnya.
  • BI rate adalah instrumen utama pengendalian inflasi dalam kerangka ITF. Selain itu diperlukan bauran kebijakan untuk menjada stabilitas moneter dan memlihara stabilitas sistem keuangan sebagai cara untuk mencapai keseimbangan target inflasi dengan pertumbuhan ekonomi.
  • Implementasi bauran kebijakan antara lain dengan pengaturan giro wajib minimum (GWM), penyesuaian periode SBI dan posisi saldo harian pinjaman luar negeri (PLN) bank jangka pendek.

TINJAUAN EKONOMI JAWA TIMUR TAHUN 2010

 

  • INFLASI

Perkembangan inflasi volatile food di Jatim berfluktuatif selama tahun 2010. Hal ini dipengaruhi oleh anomali musim dan cuaca yang sulit diprediksi. Disamping itu juga ada permasalahan struktural lainnya yang belum terselesaikan seperti jalur distribusi dan tata niaga yang belum efisien, struktur pasar dan mekanisme pembentukan harga. Hal ini turut mempengaruhi peningkatan ekspektasi inflsi di masyarakat.

TPID Jatim akan melakukan beberapa hal terkait pengendalian inflasi daerah kedepannya, antara lain:

–          Peningkatan sharing informasi dan kelengkapan data terkait produksi bahan makanan/pertanian, jumlah konsumsi serta keterkaitan antar daerah baik di Jatim amupun diluar Jatim.

–          Peningkatan koordinasi dan upaya memfasilitasi kerja sama antara daerah untuk saling memenuhi kebutuhan komoditas (bahan pangan).

–          Mengusulkan peningkatan peran BULOG untuk memenuhi stok komoditas lainnya (disamping beras).

–          Mencari dan mengkasji langkah antisipasi dampak anomali cuaca terhadap kualitas dan kuantitas produksi pertanian, seperti penyesuaian/perubahan pola tanam, pemanfaatan teknologi dan sharing informasi terkait stok antar daerah.

Beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam rangka mencapai ketahan pangan di Jatim adalah :

Tantangan/Kendala Upaya
–          Permasalahan struktural perekonomian yang belum terselesaikan

–          Kondisi geografis Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan & belum sepenuhnya terintegrasi

–          Tingginya keterkaitan antar daerah dalam memenuhi kebutuhan barang

–          Struktur pasar yang terdistorsi dan mempengaruhi mekanisme pembentukan harga

–          Minimnya investasi di sektor pertanian

–          Anomali/perubahan musim/cuaca.

–          Keterbatasan pada ketersediaan data yang terintegrasi.

–          Alokasi dana pemerintah (APBN/APBD) untuk sektor pertanian yang masih minim.

–          Ekspektasi inflasi.

–          Peningkatan pembiayaan dan kerjasama dengan investor untuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur

–          Pembangunan sarana transportasi yang memdai dan pengembangan wilayah potensial

–          Pengembangan perdagangan antar wilayah, serta meminimalisasi dominasi monopoli pedagang besar.

–          Perlu disusun kebijakan untuk menghadapi dan meminimalisasi dampak anomali cuaca terhadap hasil produksi pertanian.

–          Peningkatan produktivitas dan kinerja sektor pertanian (lahan, proses produksi & pemasaran) melalui penyediaan pembiayaan, bantuan teknis produksi, dan pemasaran.

Faktor-faktor pendorong dan penghambat inflasi tahun 2011 :

Faktor pendorong inflasi 2011 Faktor penghambat inflasi tahun 2011

–          Anomali musim/cuaca yang masih berlanjut

–          Gangguan distribusi (permasalahan infrastruktur dan bencana)

–          Penurunan produktivitas hasil pertanian

–          Ketergantungan dengan daerah lain

–          Potensi kenaikan harga komoditas internasional

–          Ekspektasi inflasi

–          Kebijakan pemerintah (administered prices)

–          Nilai tukar rupiah yang terjaga

–          Upaya aktif pemerintah daerah untuk mengendalikan inflasi

Sumber: Bank Indonesia

  • RENCANA KEBIJAKAN PEMBATASAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BERSUBSIDI

Pada tahun 2010, jumlah kendaraan bermotor di Jawa Timur (s/d Agustus0 mencapai 10,11 juta unit dengan proporsi 87% sepeda motor, 8,47% mobil penumpang, 4,02% mobil barang/truk, 0,51% mobil bus dan kendaraan khusus. Ketersediaan sarana infrastruktur sarana pengisian bahan bakar umum (SPBU) khususnya untuk bahan Bakar Khusus yang tersedia di jatim rata-rata mencapai 61%. Diharapkan saat kebijakan pembatasan penggunaan BBM subsidi mulai diberlakukan di Jatim, faktor ketersediaan infrastruktur tidak akan menjadi kendala.

Ketersediaan Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jawa Timur

No Wilayah Jumlah SPBU SPBU BBK Persen No Wilayah Jumlah SPBU SPBU BBK Persen
1 Kota Mojokerto 5 5 100% 21 Kab Kediri 35 12 34%
2 Kota Batu 5 5 100% 22 Kab Lamongan 24 8 33%
3 Kota Malang 19 18 95% 23 Kab Madiun 15 5 33%
4 Kab Bangkalan 9 8 89% 24 Kab Nganjuk 21 7 33%
5 Kota Surabaya 98 82 84% 25 Kota Kediri 12 4 33%
6 Kab Sidoarjo 64 48 75% 26 Kab Situbondo 12 4 33%
7 Kota Blitar 7 5 71% 27 Kab Bojonegoro 16 5 31%
8 Kota Pasuruan 3 2 67% 28 Kab Trenggalek 10 3 30%
9 Kab Pasuruan 38 22 58% 29 Kab Tulungagung 27 8 30%
10 Kota Probolinggo 7 4 57% 30 Kab Tuban 18 5 28%
11 Kab Bondowoso 7 4 57% 31 Kab Sampang 8 2 25%
12 Kab Lumajang 14 7 50% 32 Kab Sumenep 8 2 25%
13 Kab Jombang 29 14 48% 33 Kab Ngawi 16 4 25%
14 Kab Pamekasan 11 5 45% 34 Kota Madiun 9 2 22%
15 Kota Jember 33 15 45% 35 Kab Magetan 18 4 22%
16 Kab Blitar 23 10 43% 36 Kab Mojokerto 32 6 19%
17 Kab Gresik 35 15 43% 37 Kab Ponorogo 22 2 9%
18 Kab Probolinggo 14 6 43% 38 Kab Pacitan 6 0 0%
19 Kab Malang 49 19 39%
20 Kab Banyuwangi 37 13 35% Total 507 307 61%

Sumber: Pertamina UPMS V

 

  • DAMPAK ERUPSI GUNUNG BROMO

Gunung Bromo berada di wilayah Kab. Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Erupsi gunung Bromo yang terjadi sejak bulan Desember 2010 menyebabkan kerusakan dan kerugian di beberapa wilayah sekitar yang mencapai Rp. 148,23 miliar (berdasarkan hasil pendataan ITS Surabaya pada 26 Januari 2010). Yang meliputi lahan pertanian, hewan ternak, lumpuhnya kegiatan ekonomi dan pariwisata, serta kerusakan infrastruktur. Dampak sosial yang muncul akibat bencana tersebut berupa hilangnya mata pencaharian penduduk di sekitar Bromo yang selama ini bergantung pada sektor perhotelan/wisata dan sektor pertanian.

  • PERKEMBANGAN UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR

Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mewajibkan Gubernur untuk menetapkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) Provinsi. Regulasi Umk ditetapkan oleh Gubernur jawa Timur dan dituangkan dalam bentuk Peraturan Gubernur yang akan memberikan acuan mengenai besaran upah minimum pekerja pada 37 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur. Ada peningkatan rata-rata UMK dikabupaten/kota di Jatim dari tahun 2008 s.d 2011 sebesar 37% yaitu dari Rp. 619.278 menjadi Rp. 845.934. nilai rata-rata UMK kota pada tahun 2008 sebesar Rp. 661.281, tahun 2009 sebesar Rp. 768.563, tahun 2010 sebesar Rp. 835.688, dan tahun 2010 sebesar Rp. 899.125.

Pada tahun 2010, kabupaten yang memiliki UMK dibawah rata-rata adalah Probolinggo, Bangkalan, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Blitar, Ngawi, Magetan, Pacitan, Tulungagung, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Sumenep, dan Sampang. Kota dibawah rata-rata UMK adalah Mojokerto, Probolinggo, Blitar dan Madiun.

Pada tahun 2011, kabupaten yang memiliki UMK dibawah nilai rata-rata adalah Probolinggo, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Blitar, Ngawi, Magetan, Pacitan, Tulungagung, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Sumenep dan Sampang. Sedangkan kota yang memiliki UMK dibawah rata-rata adalah Mojokerto, Probolinggo, Blitar dan Madiun.

Sumber : Bank Indonesia

Written by romypradhanaarya

Mei 11, 2011 pada 3:13 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: