Romypradhanaarya's Blog

Just another WordPress.com weblog

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Jawa Timur Triwulan I-2010

leave a comment »

  1. 1. Peranan Pembiayaan Luar Negeri dalam Pembangunan di Jawa Timur

Secara umum, sumber pembiayaan ekonomi Jawa Timur dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Sumber pembiayaan dari dalam negeri dapat berasal dari pengeluaran pemerintah (APBD dan APBN), Lembaga Keuangan Bank maupun Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) yaitu perusahaan pembiayaan, koperasi/lembaga keuangan mikro, pegadaian dll. Sedangkan sumber pembiayaan dari luar negeri dapat berasal dari Lembaga Bank dan Non Bank maupun dari dana pengiriman TKI di luar negeri (Dana Remitansi TKI) dan sumber lainnya.

Sumber Pembiayaan Ekonomi Jawa Timur Selama 2009*

Sumber Keterangan Rp. Triliun %
Dalam Negeri -APBD (prov/Kota/Kab) & APBN

-Pembiayaan dari Lembaga Keuangan Bank

-Pembiayaan dari Lembaga Keuangan Non Bank

94,80

54,63

10,83

50%

29%

6%

Luar Negeri -Pembiayaan dari Lembaga Bank & Non Bank

-Remittansi TKI (melalui perbankan dan kantor pos)

25,24

4,42

13%

2%

Total 189,93 100%

Keterangan:    *) bersifat flow, bukan stock

Sumber: Bank Indonesia

Dalam terminologi yang digunakan di Neraca Pembayaran Indonesia, sumber pembiayaan dari luar negeri kepada perusahaan bisa dalam bentuk Direct Investment (DI), Portfolio Investment (PI) maupun Other Investment (OI). Dari sistem Pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) di Bank Indonesia, jenis pembiayaan luar negeri kepada perusahaan bisa dalam bentuk trade credit (kredit dagang) dari partner dagang perusahaan di luar negeri, pinjaman (loans) dari bank atau lembaga keuangan lainnya di luar negeri, penjualan surat utang (baik jangka pendek atau panjang) kepada investor di luar negeri, serta dalam bentuk suntikan modal (equity/stock) dari pemilik perusahaan/investor di luar negeri.

Sumber Pembiayaan Dari Luar Negeri

Perusahaan di Jawa Timur (dalam juta USD)

2007 2008 2009
Trade Credit 2.237 2.471 1.431
Pinjaman jangka pendek 55 643 782
Pinjaman jangka panjang 96 73 43
Surat utang 73 73 118
Modal disetor 66 66 54
Total 2.528 3.326 2.428

Sumber: Bank Indonesia

  1. 2. Dampak ACFTA Terhadap Industri Makanan-Minuman di Jawa Timur

Kondisi saat ini:

  • Khusus produk makanan dan minuman (mamin), saat ini tercatat sejumlah 481.988 unit perusahaan beroperasi di Jawa Timur dan menyerap 1.455.958 orang tenaga kerja. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 473.605 unit perusahaan dan menyerap 1.406.027 orang tenaga kerja.
  • Industri makanan minuman skala kecil selama ini sudah mengalami permasalahan struktural:
  1. Kesulitan memperoleh bahan baku, khususnya yang berasal dari impor karena membutuhkan modal dan jaringan yang kuat.
  2. Kekurangan modal kerja, sementara kredit perbankan sulit diakses karena membutuhkan agunan dan suku bunga yang tinggi.
  3. Banyaknya ijin yang harus didapatkan terkait produk mamin (label komposisi, merek dagang, sertifikasi halal)yang sulit untuk diperoleh.
  4. Kurangnya pembinaan/pendampingan dari lembaga berwenang.
  5. Risiko tuntutan hukum (lawsuit) pasca konsumsi mengingat produk mamin terkait erat dengan kesehatan tubuh manusia.
  • Akibat sulitnya situasi usaha tersebut, banyak industri mamin sekala kecil yang beralih menjadi pedagang. aktivitasnya menjadi membeli mamin jadi untuk dijual kembali.

Prospek pasca implementasi ACFTA

  • Secara umum implementasi ACTFA diprediksi tidak berdampak signifikan terhadap industri mamin di Jawa Timur, terutama untuk industri mamin skala menengah dan besar. Industri mamin skala menengah bertahan dengan cara mengurnagi profit margin, sedangkan industri mamin skala besar relatif tidak terganggu.
  • Dampak negatif ACFTA diprediksi akan terjadi pada industri mamin skala kecil.
  • Daya saing industri di Indonesia cukup tertinggal dibanding industri di China. Dalam hal ini, perusahaan di China beroperasi dengan lebih efisien dan produktif.
  • Industri mamin (terutama skala besar dan menengah) umumnya memiliki karakteristik tersendiri yang membuatnya relatif sulit ditembus oleh produk China :
  • Di sisi lain, industri mamin Jatim diperkirakan belum mampu memanfaatkan ACFTA untuk memperluas pasar ekspornya ke China, karena:
  1. Perbedaan spesifkasi antara produk mamin yang selama ini dibuat dengan yang dibutuhkan oleh konsumen China misalnya untuk produk udang olahan.
  2. Cita rasa (taste) yang berbeda antara konsumen di Indonesia dengan China sehingga perusahaan tidak serta merta bisa mengekspor ke China.
No Indikator Indonesia China
1 Tenaga kerja/buruh Jam kerja 40 jam/minggu

Hari kerja pertahun 337 hari

Labor cost US$ 0,65/jam

Jam kerja 44-48 jam/minggu
hari kerja pertahun 347-350 hari

Labor cost US$ 0,55-0,85/jam

2 Energi listrik Tarif: US$ 0,65/jam

Supply tidak kontinyu sehingga ada penambahan biaya (tidak ekonomis untuk perusahaan)

Tarif US$ 0,09/jam

Supply stabil

3 Mesin dan Peralatan Industri <10 tahun dan telah melakukan peremajaan mesin sejak tahun 2000
4 Suku bunga pinjaman 14% 6%
5 PPN Restitusi 10% tanpa ada kepastian waktu

Penjualan ritel: produsen harus menggunakan faktur PPN lengkap

17% dengan waktu 25 hari

Penjualan ritel: lebih senang membeli produk dari importir karena tidak menggunakan faktur lengkap

6 Potongan pajak Kebijakan fasilitas insentif potongan pajak (tax rebate) hingga 15% kepada perusahaan produsen produk berorientasi ekspor
  1. 3. Perkiraan Dampak Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) Terhadap Inflasi di Jawa Timur

Pemerintah merencanakan untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sekitar 10% pada tahun ini. Kenaikan TDL di satu sisi diharapkan dapat mengurangi beban subsidi Pemerintah kepada PT PLN. Namun di sisi lain, kenaikan TDL juga dapat berdampak pada meningkatnya inflasi daerah. Rencana kenaikan TDL dapat berdampak meningkatkan tingkat inflasi di Jawa Timur baik secara langsung (direct impact) maupun tidak langsung (indirect impact). Namun diperkirakan tidak terlalu signifikan. Diperkirakan naiknya TDL sebesar 10% akan memberikan dampak langsung terhadap kenaikan inflasi sampai dengan 0,31% (mtm) sedangkan dampak tidak langsungya terhadap kenaikan inflasi mencapai 0,10% (mtm).

Kecilnya dampak kenaikan TDL antara lain disebabkan relatif tidak terlalu signifikannya bobot inflasi TDL serta relatif kecilnya porsi biaya listrik terhadap total biaya produksi di industri secara umum.

Pengguna Subsidi Listrik Skala Nasional (Rp Triliun)

Kelompok Pelanggan Gol Tarif Jumlah Subsidi
Rumah tangga sangat keci R1/450 13,14
Industri besar I3/200K 10,92
Rumah tangga sangat kecil R1/900 9,48
Industri sangat besar I4/30M 4,37
Rumah tangga kecil R1/1.300 3,94
Rumah tangga sedang R1/2.200 2,48
Bisnis sangat besar B3/200K 1,91
Penerangan jalan P3 1,40
Rumah tangga menengah R2/2,2-200K 1,37
Industri sedang I1/14-200K 1,22

.

Sumber: Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia, Triwulan I-2010

About these ads

Written by romypradhanaarya

Juli 2, 2010 pada 8:40 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: